Judul
Kisah Maghrib yang Tak Lagi Disambut

Penulis
Asvara FRP

Editor
Lord Juju

Tata Letak
Meily Winie Manik

Desain Sampul
Muhammad Nanda Syah

Cetakan Pertama: Januari 2026
xiii + 53 hlm.; 14,8 x 21 cm

ISBN: Dalam Proses
E-ISBN: Dalam Proses

Penerbit
Mulai Menulis Indonesia

Redaksi
Jalan Kolam, Desa/Kelurahan Kenangan Baru, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara, 20371
Telepon: 0855-4060-6090
Email: mulaimenulisindonesia@gmail.com
Website: https://mulaimenulisindonesia.com/

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penulis.

Sinopsis

Ada waktu dalam sehari yang dahulu selalu dinanti: maghrib.
Bukan sekadar penanda waktu, maghrib adalah jeda penuh rasa, tempat keluarga berhenti dari hiruk-pikuk, tempat anak-anak bersahut mengaji, dan tempat doa mengisi ruang. Kisah Maghrib yang Tak Lagi Disambut menuturkan momen yang kian pudar itu: tentang azan yang kalah oleh notifikasi, surau yang mulai lengang, dan meja makan yang terpisah oleh layar.

Fathur Rizki Panjaitan merangkai esai-esai puitis dan narasi kenangan untuk menggugat kebiasaan modern. Apakah kemajuan harus mengorbankan keheningan dan kebersamaan? Buku ini bukan seruan moral yang menuntut, melainkan undangan lembut untuk memulai kembali, cukup dengan mematikan layar sejenak, mengambil sajadah, dan menyambut senja bersama keluarga.

Buku ini cocok bagi pembaca yang merindukan ritme sederhana, para pengelola komunitas, orang tua, serta siapa pun yang ingin menemukan kembali kehangatan yang mudah terlupa. Sebuah pengingat lembut bahwa maghrib tidak benar-benar pergi; ia hanya menunggu untuk dipulihkan.