COVER READ BETWEEN THE LINES

Judul
READ BETWEEN THE LINES: Gender, Bahasa, dan Sastra di Era Digital

Penulis
Cut Novita Srikandi
Rakhmat Wahyudin Sagala

Editor
Khairun Nissa

Tata Letak
Lord Juju

Desain Sampul
Muhammad Nanda Syah

Cetakan Pertama: Agustus 2026
xvi + 201 hlm.; 15,5 x 23 cm

ISBN: 9786340561876
E-ISBN: 9786340561883 (EPUB)

Penerbit
Mulai Menulis Indonesia

Redaksi
Jalan Kolam, Desa/Kelurahan Kenangan Baru, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara, 20371
Telepon: 0855-4060-6090
Email: mulaimenulisindonesia@gmail.com
Website: https://mulaimenulisindonesia.com/

HAK CIPTA DILINDUNGI UNDANG-UNDANG
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun, baik secara elektronik maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam, atau menggunakan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penulis.

Sinopsis
READ BETWEEN THE LINES: Gender, Bahasa, dan Sastra di Era Digital mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: Mengapa satu kata bisa terasa biasa bagi seseorang, tetapi begitu berarti bagi orang lain? Mengapa tokoh perempuan dan laki-laki dalam cerita sering ditempatkan dalam peran tertentu? Dan bagaimana media digital ikut mengubah cara kita memahami identitas, bahasa, dan kehidupan sosial? Dari ruang kelas hingga media sosial, dari karya sastra hingga percakapan sehari-hari, buku ini mengajak pembaca melihat bahwa bahasa tidak pernah benar-benar sekadar kata-kata. Di baliknya ada pengalaman, nilai, identitas, bahkan cara masyarakat memandang dunia.
Membaca buku ini adalah sebuah perjalanan untuk melihat lebih jauh dari apa yang tertulis. Pembaca diajak menyusuri konstruksi gender, representasi dalam sastra, kekuatan bahasa, perubahan narasi di media digital, hingga peluang teknologi dalam perkembangan kajian gender dan sastra. Disampaikan dengan pembahasan yang dekat dengan kehidupan kontemporer, buku ini cocok bagi mahasiswa, pendidik, peneliti, penulis, maupun siapa saja yang ingin memahami bahasa, sastra, dan perubahan sosial dengan perspektif yang lebih kritis. Sebab, di era ketika satu unggahan dapat memicu ribuan percakapan, kemampuan membaca bukan lagi sekadar memahami kalimat, tetapi juga memahami makna yang tersembunyi di antara baris-barisnya.